BIJAK DALAM BERKATA-KATA, BIJAK DALAM MENDENGAR KATA-KATA

 

“BIJAK DALAM BERKATA-KATA, BIJAK DALAM MENDENGAR KATA-KATA”


 


📖✍️ Amsal 15:23 ✍️📖


“Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!”


 


📖✍️1 Petrus 3:10-11✍️📖


“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya”


 


Mao Zedong adalah seorang filsuf dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok yang di kemudian hari mendirikan negara Republik Rakyat Tiongkok. Pada masa kecilnya dia pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang didirikan oleh para misionaris dari Eropa. Namun oleh karena suatu hal, Mao dimaki oleh salah satu Pastor dengan makian yang bersifat rasialis. Mulai saat itu Mao tidak pernah kembali ke sekolah itu.


 


Dia bertumbuh menjadi pribadi yang penuh sakit hati dan sangat membenci kaum rohaniwan. Setelah menjadi pemimpin komunis terbesar di Tiongkok, dia menjatuhkan hukuman kerja paksa yang mengakibatkan meninggalnya jutaan kaum terpelajar dan seniman dalam Revolusi Kebudayaan di antara tahun 1966 hingga 1976.


 


Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Mao Zedong ini adalah kita harus berhati-hati dengan setiap ucapan atau perkataan kita.


 


Setiap perkataan yang keluar dari mulut kita itu ibarat seperti sebuah anak panah yang kita lepaskan dari busurnya yang akan terus membekas di dalam sanubari orang lain. Jika perkataan yang kita keluarkan itu adalah kata-kata yang membangun, maka ia akan berdampak positif bagi siapa yang kepadanya kita tujukan perkataan tersebut. Akan tetapi jika perkataan yang kita lepaskan itu adalah kata-kata negatif dan menyakiti orang lain, maka perkataan itu akan sangat menghancurkan diri orang yang kepadanya kata-kata tersebut kita tujukan. Sekalipun mungkin kita sudah meminta maaf, tetapi luka yang disebabkan oleh perkataan tersebut masih akan tetap membekas hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan.Ada satu artikel yang mengatakan seperti ini:


 


“Orang yang suka berbicara tentang kebaikan kepada sesamanya adalah tipe motivator yang tengah mencicipi hidup bahagia, sedangkan Orang yang suka meneror sesamanya adalah tipe komunikator yang tengah mencicil hidup tragisnya di saat ini.”


 


Inti dari kalimat tersebut adalah ingin mengajarkan kepada kita supaya berhati-hati dengan setiap kata-kata yang kita ucapkan, sebab kata-kata itu memiliki dampak yang sangat besar bagi diri kita maupun orang lain.


 


KARENA ITU….,


 


Belajarlah untuk senantiasa berkata-kata dengan kata-kata yang MENCERAHKAN, dan bukannya MENCURAHKAN KEBENCIAN. Serta belajarlah untuk mendengar sesuatu dengan LEBIH TELITI, agar kita TIDAK SALAH MENGERTI di dalam MENGARTIKAN sebuah PERKATAAN yang diucapkan, sebab selalu ada MAKNA TERSEMBUNYI di balik setiap kata yang dikeluarkan, yang HARUS kita PAHAMI dengan betul KEBENARANNYA.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama